Jumat, 19 Desember 2014

0 Cinta Itu Kesetiaan

“Ya ampun. Kok hari ini tugasnya makalah semua. Jadi ribet ini bawanya.” Talitha menggerutu di sepanjang perjalanan menuju perpustakaan. Sesekali Ia membenahi letak tumpukan makalah di tangan kirinya. Tak disangka saat Talitha membenahi makalahnya untuk kesekian kali, tubuhnya membentur sesosok tubuh di hadapannya yang berhenti tiba-tiba. Makalah Talitha berserakan.
“Yah jatuh! Huft..” Talitha mempoutkan bibirnya lucu lalu berjongkok memunguti semua makalah yang jatuh tak jauh darinya.
“Maaf ya.” cowok yang tadi membuat makalahnya terjatuh kini ikut berjongkok membantunya. Talitha mendongak dan mengangguk polos.
“Talitha Kirani. Tingkat I.” cowok itu mengeja nama dan tingkat yang tertera di salah satu makalah Talitha. “Gak apa-apa kan, Dek?” lanjutnya.
“Gak apa-apa kok. Kak Samuel?” Talitha tersenyum tipis lalu berdiri dan mengambil alih makalah dari tangan
“Iya. Samuel…”
“Samuel Andra Winata. Tingkat 3 Fakultas Kedokteran. Forward andalan tim basket putra UHO dan cadangan center tim basket putra Provinsi Sulawesi Tenggara. Cowok keturunan Manado-Chinese. Cowok paling populer di UHO. Right?” Samuel tertawa renyah mendengar rentetan kalimat yang keluar dari bibir mungil Talitha.
“Segitu populernya ya, Dek? Kayaknya enggak deh. Aku kan bukan artis, Dek.” Talitha mengangkat bahu dan berlalu. Samuel mengikuti langkah Talitha.
“Kata Dina sih gitu. Dina kan ngefans sama kakak.” Samuel menggelengkan kepala. Dia nggak suka ada yang ngaku-ngaku fansnya. Talitha menghentikan langkahnya, membuat Samuel terpaku kebingungan. Talitha berbalik dengan senyum lebar yang merekah di bibirnya.
“Aku manggilnya Kak Sammy aja ya?” Samuel terdiam. Sedetik kemudian tawanya meledak. Membuat Talitha dan belasan mahasiswi yang berada di sekitar terpesona. Wajahnya itu lohh, cute abis!! Tersadar kalau dirinya menjadi pusat perhatian, Samuel tersipu malu dan menutup bibirnya. Kini giliran Talitha yang terkikik geli.
“Kak Sammy ucul kalau lagi malu. Pipinya jadi pink-pink gitu ihh~ Gemess.” spontan Talitha mencubit pipi Samuel. Untuk beberapa saat Samuel terpaku merasakan getaran-getaran halus yang mencuat dari dalam hatinya. Talitha tak menyadari perubahan pada wajah Samuel. Ia masih saja mengomentari pipi Samuel yang merona.
Samuel menggelengkan kepala aneh. Salah tingkah tepatnya. Untungnya, Prof. Abdillah menyelamatkannya.
“Samuel, ngapain kamu masih di sini? Saya mau masuk ke kelas tingkat 2. Jangan coba-coba biarkan saya mengajar sendiri tanpa assisten ya!” Samuel nyengir menunjukkan deretan giginya yang rapi dan putih. Professor Abdillah memang meng-istimewa-kan Samuel. Bukan karena Samuel popular, tapi IP Samuel selalu jadi yang paling tinggi di antara teman-teman seangkatannya. Yang paling penting, Samuel adalah Assisten Prof. Abdillah.
“Talitha Kirani, kamu ngapain liatin saya begitu? Naksir?” Talitha mengangkat 2 jari sekaligus memasang wajah sakit perut. Ekspresi wajah yang sukses membuat dosen over PD yang berumur setengah abad lebih itu tersenyum sinis.
“Engg. Saya permisi ya, Professor. Kak Sammy, aku pergi dulu ya. See ya, brotha!” Talitha melangkahkan kaki menuju tujuan utamanya, perpustakaan.
Samuel mendriblle bola basket dengan penuh perasaan. Bayangan Talitha menari-nari di benaknya. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman seraya menggelengkan kepala. Tapi, Samuel tak sadar jika ia mengeluarkan senyuman mautnya di tempat yang salah.
“Aaaaa… Kak Samuel senyum. I LOVE YOU SO MUCH, Kak!!”
“Kak Samuel!! Please be mine, kak.”
Samuel ternganga. Bola basketnya menggelinding entah kemana. Teriakan tadi menyadarkannya akan sesuatu. Gadis-gadis ababil itu! Oh Tuhan, ia harus segera menyingkir dari lapangan basket sebelum gadis-gadis itu menggila lagi seperti saat latihan kemarin. Samuel bergegas melangkahkan kaki panjangnya ke mana saja, yang penting jauh dari gadis-gadis tak waras yang setiap hari menggodanya dari sekitar lapangan basket.
“Kak Sammy!” suara manis nan merdu terdengar dari balik punggungnya. Talitha. Langkahnya terhenti. Samuel tersenyum memikirkan bagaimana bisa suara gadis yang baru saja ia dengar tadi pagi sudah bisa ia hafal di luar kepala. Ia berbalik menatap Talitha yang sedang mengatur nafas. Tampaknya Talitha berlari mengejar Samuel dengan kakinya yang mungil.
“Kak Sammy jalannya cepet banget ihh~ Coba kaki aku panjang-panjang kayak kakinya kakak.” Talitha sibuk mengaduk-aduk tasnya dan sesekali membenahi poninya yang menutupi mata.
“Hehe. Sory, Tha. Aku lagi kabur dari temen-temen kamu yang ababil itu tuh. Nyari tissue ya? Pake ini aja, Tha.” Samuel menjulurkan handuk kecil yang sedari tadi dipegangnya. Talitha nyengir kuda. Tangannya terulur mengambil handuk yang ditawarkan Samuel padanya.
“Kak Sammy nggak suka ya sama cewek-cewek itu? Pantes aja kak Sammy pergi. Padahal aku lagi fokus liat kak Sammy latihan sendiri. Emang kenapa sih, kak? Mereka kan cantik en modis. Cocok sama kakak.” Talitha mengeluarkan unek-uneknya tanpa menyadari raut muka Samuel yang berubah masam.
“Kamu itu kecil-kecil udah kepo ya! Mana cerewet lagi.” Samuel mengacak gemas rambut Talitha.
“Enak aja bilangin aku masih kecil. Aku udah gede, Kak. Udah jadi mahasiswi ini.” protes Talitha.
Samuel terbahak. Tangannya meraih lengan Talitha lalu menyeretnya ke kantin. Sebagai permintaan maafnya, Samuel mengizinkan Talitha memesan makanan sepuasnya dan Samuel yang membayar.
5 bulan kemudian…
Samuel menatap jam tangan di pergelangan tangannya. Pukul 14.30. Samuel terkekeh menyadari kebodohannya. Ia dan Talitha janjian untuk bertemu pukul 15.00, tapi ia datang terlalu cepat. Rindunya akan tawa dan kekonyolan Talitha membuatnya linglung. Sudah 2 minggu ia tak pernah melihat wajah manis gadis yang sudah berhasil mengacaukan kerja system saraf otaknya itu. 2 minggu ini ia habiskan hanya untuk terfokus pada tim basket UHO. Dan 2 minggu ini, ia terpaksa hanya menekan kerinduan pada Talitha dengan bertukar kata via BBM.
Kling!
Samuel tersenyum. Gadis yang ada dalam pikirannya kini sedang melangkah menuju ke arahnya. Masih sama! Gaya berpakaian yang casual dan sporty tetap jadi ciri khas seorang Thalita. Samuel bahkan belum pernah melihat gadis itu berpenampilan fenimim. Gadis itu pernah bilang “Let me just to be me. Aku nyaman dan orang-orang yang menyayangiku juga nyaman.”
“Gimana IP kamu, Tha? Bagus? Kamu puas?” Samuel memberondong Talitha dengan pertanyaan begitu Talitha duduk di sebelahnya. Talitha hanya mengangguk. Sebuah senyum tercetak indah di bibir merahnya. Samuel balas tersenyum lega.
“Besok pagi free kan, Tha? Kamu nonton ya pertandingan final aku. Please, Tha!” Samuel menatap orang-orang yang berlalu lalang di sekitar Taman Kota. Pikirannya kembali ke beberapa hari yang lalu, saat Talitha selalu menolak menonton pertandingan basket antar provinsi se-Indonesia Timur yang digelar di Kendari. Samuel takut ia akan menerima jawaban yang mengecewakan lagi kali ini.
“Kak Sammy, kok diam? Jawaban aku salah lagi ya?”
“Eh. Apa yang salah? Emang kamu tadi jawab apa?” Samuel tergagap melihat Talitha menatapnya lekat-lekat. Debaran halus itu selalu muncul dalam dada Samuel ketika melihat cahaya yang memancar dari mata bulat yang indah milik Talitha.
“Kak Sammy kenapa sih? Kok aneh? Aku tadi bilang aku pasti datang.”
“Aku kangen kamu, Tha!”
Waktu seakan berhenti berputar. Tubuh Talitha menegang. Wajahnya memancarkan kepanikan yang amat sangat. Tapi sesegera mungkin ia menutupinya. Sementara Samuel ikut terdiam seolah merutuki bibirnya yang tidak bisa menahan kata-kata itu. Bodoh. Bodoh.
“Apa, kak?”
“Ah, enggak. Bukan apa-apa. Lupain aja, Tha. Btw aku harus pulang, Tha. Aku butuh istirahat. Kamu mau aku antar pulang sekalian?” Samuel menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Talitha menggeleng.
“Aku masih harus ke KONI, kak. Ada urusan. Kakak pulang aja duluan.”
“Ya udah. Kamu hati-hati ya. Besok harus datang!”
“Sipp, kak. Istirahat baik-baik.”
Samuel beranjak pergi dengan Honda CBR-nya setelah taksi yang membawa Talitha ke KONI meluncur ke tujuan.
“Udah ketemu Samuel, Tha?” Talitha mengangguk seraya menerima helm yang diberikan oleh cowok berpostur tegap dan berlesung pipi di hadapannya.
“Besok pertandingan finalnya kak Sammy, Gil. Temani aku nonton ya? Sekalian aku kenalin kamu sama kak Sammy.” Gilbar mengusap puncak kepala gadisnya lalu mengangguk. Cowok yang sudah hampir 3 tahun menemani Talitha itu baru tiba dari pendidikan militer sejak 4 hari yang lalu dan masih hobi berlatih renang. Jadilah Talitha selalu menemani kekasihnya ke KONI.
“Ayo naik. Aku antar kamu pulang ke kost kamu. Nanti malam kita jalan ya, Litha sayangku?” Gilbar mengedipkan matanya genit. Talitha terkekeh dan memukul lengan Gilbar. Dua sejoli yang sedang dimabuk rindu meninggalkan pelataran parkir KONI yang menjadi saksi bisu konyolnya tingkah mereka.
Samuel masih belum bisa memejamkan matanya walau jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.35. Bibirnya bergerak seolah sedang menghafal sesuatu.
“Tha, aku sayang kamu. Sejak pertama aku ketemu kamu, aku langsung suka cara kamu ketawa, senyum, marah. Semuanya. Would you be ma’ gal, Talitha?”
Samuel tertawa pelan. Senyumnya merekah membayangkan Talitha akan mengangguk atau menjawab “Yes, I will”. Menyadari Talitha selalu ada untuknya selama 6 bulan terakhir membuatnya berpikir tak bisa lagi bernafas tanpa gadis itu.
Perlahan Samuel mulai memejamkan matanya. Dadanya turun naik teratur. Samuel tertidur lelap di tengah kegelisahannya menunggu sang fajar menghiasi langit pagi.
“UHO. UHO. UHO.” teriakan terus bergema di dalam gedung tempat pertandingan berlangsung. Mata Samuel menatap penonton, berharap di salah satu kursi telah duduk gadis pujaan hatinya. Talitha. Samuel menghembuskan nafas kasar. Ia belum menemukan apa yang ia cari.
“Kak Sammy, semangat!!!” teriakan melengking khas Talitha merasuk ke dalam rongga telinga Samuel dan menyalurkannya ke saraf bibir yang membuat sebuah senyuman manis bertengger disana. Talitha melambaikan tangannya dengan semangat lalu kembali duduk.
“Siapa cowok yang duduk di sebelah Talitha? Keliatannya akrab. Hmm. Pasti sepupu atau sahabatnya. Think the positive, Sam. She’s will be yours. Fighting!” Samuel menyemangati dirinya sendiri dalam hati.
Pertandingan berlangsung sengit. Tim UNHAS ternyata lebih unggul daripada tim UHO. UNHAS memaksa UHO takluk dengan skor akhir 56-60.
Talitha menuju ruang ganti tim UHO dengan tergesa. Jantung Talitha nyaris mencelos ketika tepat di depan pintu, Samuel muncul tiba-tiba dengan wajah kusut.
“Kak Sammy mainnya bagus. Menang kalah itu biasa. Yang penting jangan putus asa aja, Kak. Be strong ya? Kalau semua urusan kakak udah selesai, temui aku di KopKit. Aku tunggu, Kak.” Talitha menepuk lengan Samuel pelan, menyalurkan semua semangat yang ia punya untuk orang yang sangat dekat dengannya itu. Talitha berbalik, melangkah meninggalkan Samuel yang masih terdiam. Samuel menahan pergelangan tangan Talitha, membuat gadis itu refleks berbalik dan mengeluarkan tatapan bingung.
“Aku sayang kamu, Tha.” Talitha tersenyum mendengar kata-kata tulus yang keluar dari bibir Samuel. Tanpa menjawab, Talitha meneruskan langkahnya dan menghilang di kerumunan pemain UNHAS yang akan segera kembali ke hotel.
Samuel melangkah mendekati Talitha yang sedang bercengkrama dengan ‘sepupu’-nya. Talitha belum menyadari Samuel berdiri di depan mereka.
“Talitha.” Talitha memandang lurus. Tampak olehnya Samuel berdiri dengan senyuman yang terus terlukis di wajahnya.
“Ayo duduk, Kak.” Samuel menurut, sesekali matanya melirik ‘sepupu’ Talitha. Talitha yang baru sadar langsung mengerti.
“Ohh. Iya, kak. Kenalin dulu. Ini Gilbar, tunangan aku. Dia baru pulang dari pendidikan 5 hari yang lalu. Gil, ini Kak Sammy. Dia yang selama ini bantu aku di kampus.” Gilbar menyodorkan tangannya ke arah Samuel. Samuel membalasnya ragu. Matanya menatap Talitha nanar.
“Bro, bisa minta tolong nggak? Antar Talitha pulang ya. Pagi ini aku harus piket soalnya, buru-buru nih.” Samuel mengangguk pasrah. Ini yang terakhir, pikirnya. Gilbar dan Talitha tersenyum sumringah.
Gilbar bergegas beranjak pergi dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Talitha. Darah Samuel bergejolak. Hatinya seakan tak rela melihat kemesraan yang ditunjukkan Gilbar pada Talitha. Setelah Gilbar menghilang dari pandangan Samuel dan Talitha, suasana hening.
“Kenapa nggak pernah ngomong, Tha?” Samuel menatap sendu cincin yang melingkar indah di jari manis Talitha. Samuel memilih buta daripada harus melihat kenyataan ini.
“Tentang apa, kak?”
“Apa kamu nggak pernah tau apa yang aku rasain, Tha? Aku sayang sama kamu lebih dari sekedar rasa sayang senior ke juniornya. Tapi ternyata kamu udah tunangan. Kenapa nggak ngomong dari awal, Tha? Aku jadi berharap sama kamu. Aku terlambat.”
“Kak Sammy, sory! Aku kenal Gilbar 3 tahun yang lalu. Aku dan dia udah lama bersama, kami udah terlalu dekat. Kami nggak bisa dipisahkan, kak. Aku itu Gilbar. Gilbar itu aku. Seandainya aku ketemu kakak sebelum aku ketemu Gilbar, mungkin aku bisa punya rasa yang sama dengan apa yang kakak rasain sekarang. Tapi sayang, rasaku cuma satu dan itu udah buat Gilbar.”
“Nggak apa-apa, Tha. Aku yang salah. Aku nggak pernah nanya apa kamu udah punya seseorang yang mengisi hati kamu. Aku hanya memikirkan bagaimana untuk terus memupuk rasa ini dan mengabaikan resikonya. Gilbar beruntung bisa dapat cewek langka kayak kamu, Tha. Harusnya kamu dimuseumkan aja.” Samuel dan Talitha tergelak dalam rinai airmata yang jatuh dari sudut mata masing-masing.
“Kak Sammy itu perfect. Kakak pantas bahagia dengan cewek yang lebih baik dari aku.”
Samuel menyesap cappuccino miliknya yang mulai dingin. Ia sadar, ia tak pernah berhak merebut Talitha yang begitu setia dari hati Gilbar. Samuel ingin bersikap jantan. Selama ini, ia tak pernah sedih jika kehilangan seorang gadis. Namun kali ini, hatinya perih. Talitha mungkin sudah menunjukkan setianya pada sang tunangan, tapi cinta Samuel pada Talitha pasti sulit untuk dikubur. Talitha menepuk lengan Samuel, mengajaknya untuk pulang. Sebelum memacu CBR-nya, Samuel menengadah menatap langit. Mendung. Semendung wajah dan hati Samuel.


Cerpen Karangan: Luh Ayu Ratnawati
read more

0 Ketika Cinta Melukai Cinta

“kapan lo mau punya pacar ly?” tanya satu gadis. “gue lagi nunggu seseorang yang udah gue sayang dari dulu dan gak pernah lost contact dari gue. Dia udah janji sama gue saat dia kesini nanti, dia bakalan nembak gue dan milikin gue selamanya” Jawab gadis yang lain. “oke, kapanpun, siapapun, dimanapun dan bagaimanapun, saat kita ditembak sama seorang cowok, kita harus saling cerita dulu sebelum kita jawab ya atau tidaknya, ya” ucap salah satunya. Sebuah perjanjian pun mengikat pada tiga gadis sekawan ini.
“si Emily gak sabaran banget sih!” gerutuku. Sebenarnya aku malas sekali untuk pergi hari ini tetapi karena ia adalah sahabatku dan berhubung Tania sedang dating dengan pacarnya yang kesekian, aku jadi harus menemani gadis berwajah sentuhan bule ini.
Rupanya Emily sudah standby menungguku di parkiran mall tempat kami janjian. Dia tidak berhenti mengoceh tentang teman masa kecilnya Darrell, yang akan kami temui hari ini. Kami duduk di sebuah food court selama setengah jam dan minuman yang kupesan pun hampir habis tapi tak tampak juga tanda kehadiran Darrell yang berkata bahwa ia memakai sweater coklat dengan kupluk coklat. Dan setelah sekitar satu jam setengah kami menunggu, Emily berteriak “rell!”. Aku menoleh kebingungan dan sedikit celingukan mencari siapa yang ia panggil. Kamudian sosok Darrell pun menghampiri kami, Emily memperkenalkanku pada Darrell “Yola” ucapku sambil meraih tangannya, kami berjabatan tangan. –Darrell ini ternyata cukup tampan, dengan wajah yang tidak jauh seperti Emily, bule. kurasa aku suka padanya, coba saja, dia adalah teman kecilku, akan ku pamerkan pada teman teman di sekolah, termasuk dua sahabatku—
Emily membeli minuman dan kami pun mengobrol –sebenarnya bukan kami, hanya Emily dan Darrell. Aku hanya senyam senyum mendengarkan celotehan mereka– ternyata Darrell sudah fasih bahasa indonesia. Hanya saja logatnya masih ke bule-bulean.
Usai mereka melepas rindu, Emily mengajak kami ke rumahnya agar Darrell bisa bertemu dengan mamanya. Dalam perjalanan aku mendapati sms dari mama yang memintaku menemani ke rumah temannya. “Ly, Rel, kayanya gue gak bisa nerusin ke rumah lo deh, gue disuruh balik nih”. Emily tampak kecewa tapi ia mengiyakan juga. Jadi setelah turun di stasiun busway aku pulang dijemput kakakku.
Malamnya ketika aku sedang asyik mention twitter bersama teman teman club vocal ku, Kak Yanda bilang bahwa Tania menungguku di bawah dan aku memintanya untuk menyuruh Tania ke kamar. “makasih ya kak” ucap Tania pada kakakku. “sok manis lo!” celetukku pada Tania. Si cantik play girl ini memang menyukai kakakku sudah sejak lama.
“tumben lo kesini malem malem? Ada apa Tan?” tanyaku sinis. “yeee gak suka gue dateng kesini? Ya udah gue balik” sahutnya emosi. “ya udah sana balik” jawabku. Dia nyengir dan mulai bercerita. Mulutnya tidak jauh seperti Emily yang gemar mengoceh. Dia curhat bahwa ia hari ini putus dengan dimas pacarnya. Dia datang ke rumahku tidak untuk menangis ataupun galau tapi dia malah senang dan ingin mentraktirku makan burger di depan kompleks. “gue males ah sama dimas, dia terlalu sayang sama gue, kasian, ya udah gue putusin jadi sekarang gue jomblo” jelasnya. Aku tidak percaya dengan ucapannya bahwa ia jomblo, setahuku Tania tidak pernah berpacar satu. Tapi katanya dia serius jomblo. Entahlah.
Setelah dia kenyang bercerita dan aku kenyang perut oleh 3 burger yang aku habiskan, kami pulang ke rumah masing masing. Aku menutup pintu dan menguncinya, Kak Yanda menghampiriku dan mengajakku mengobrol basa basi. “ada apa? Mau apa kakaku tersayang?” sindirku. “minta nomornya temen lo yang tadi dong” bujuknya. Aku terkejut dengan permintaan kak yanda, tak pernah ia menoleh sedikitpun teman temanku yang datang ke rumah sebelumnya. Dengan berbagai imbalan aku pun memberinya nomor hp Tania dan tentunya besok aku pun akan meminta hal yang sama pada Tania. Yuhuuu
Ting! Kurogoh segera kantung celanaku, pesan dari Emily: “La besok kita berenang ya bareng Darrell, ajak juga Tania.”
Esoknya setelah bersiap dan membawa sejumlah peralatan untuk berenang, aku pergi ke rumah Tania diantar Kak Yanda. Tentu saja dia mau karena ternyata semalam tadi dia sudah melakukan pendekatan. Ketika aku sampai di rumahnya, Tania menyambut kami. Aku langsung memberantaki kamarnya sedangkan Tania dan Kak Yanda berbincang-bincang. rumah sebenarnya Tania ada di medan. Dulunya Tania tinggal di dekat rumah Emily, tetapi karena papanya meninggal dan ia harus meneruskan sekolahnya yang tinggal setahun lagi di Jakarta, Tania menyewa kamar kost dan mamanya yang seorang bussiness woman pindah ke medan. jadi sekarang ia tinggal hanya bersama bi sarah, pembantu dan pengasuh setianya disaat Tania masih kecil.
Bi sarah menyediakan minuman untuk kami. Aku mereguknya dalam sekejap karena cuaca sangat panas yang cukup membuat tenggorokan ku kering. Setelah puas mengobrol, Kak Yanda berpamitan pulang pada Tania. “udah deh lo jadian aja sama kakak gue, biar dia baik terus sama gue Tan” saran jahatku. Tania hanya nyengir mau tapi malu. Tak lama kemudian Emily menelepon Tania, dia bilang mereka sudah tiba duluan di tempat yang akan kami tuju. Tentunya aku sangat kesal. Kami kira Emily akan menjemput kami di rumah Tania. Jika kami menyusul tentunya akan lama karena kami harus berjuang melawan macet dan panas. “gue punya ide!” ujarku.
“makasih ya kak” ucap Tania dengan senyum manis menggodanya. Kak Yanda mengangguk membalas dengan manis juga. Ide ku berhasil dengan memanfaatkan Kak Yanda untuk mengantarkanku dan Tania. Setelah Kak Yanda memutarkan motornya dan pergi, kami tertawa puas. “bener lo, karena gue, kakak lo bisa berhati dewa gitu La, biasanya kan jemput lo kalo balik sekolah juga susah” ujar Tania. Kami pun begegas masuk ke wahana berenang yang biasa kami kunjungi bertiga dan terlihat Emily sedang berdiri menepuk tangani Darrell yang menunjukkan kemahirannya berenang. Aku masih ingat cerita Emily saat di mall kemarin bahwa Darrell pernah menjuarai turnamen renang di Jerman.
Setelah kami berganti pakaian, Emily melambaikan tangan pada kami yang tandanya kami harus menghampirinya disana. Tapi tak sengaja ada seseorang yang menyenggolku hingga aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke kolam. Aku panik kurasa aku sudah menelan banyak air, aku mulai sesak dan mataku perih. Aku mencoba menggerak gerakkan kakiku tapi ini tidak membuatku terangkat dari air.
Aku terbatuk dan membuka mata. Tanganku meraba lantai yang tempatku terbaring dan ternyata basah, tersadar aku berada di pinggir kolam renang dan dikelilingi banyak orang. “are you okay?” tanya Darrell yang tepat berada di sampingku, kelihatannya dia terengah-engah. “gue gak apa apa” ucapku diiringi batuk yang membuat dadaku sakit. Saat aku menoleh ke arah Emily, ia langsung pergi dan meluncur ke kolam yang tidak terlalu dalam.
Orang-orang yang mengelilingiku tadi mulai berbubaran kembali berenang. Tania membangunkanku. Kemudian aku dibawanya ke pendopo dan menenangkanku. “udah sana lo renang aja, gue udah gak papa ko, udah biasa.” ujarku pada Tania. Tania pun menyusul Emily yang sedari tadi asyik mengepakkan tangannya di perairan.
Hari makin sore, Emily, Tania dan Darrell berganti pakaian ke semula. Aku sudah mengganti bajuku sedari tadi. Kami pun hendak pulang dan sebelumnya kami memutuskan untuk makan di café tempat aku, Tania dan Emily biasa tongkrongi. Emily yang asyik dengan BB nya tidak memakan makanan yang dia pesan. “Ly, kok makanannya gak dimakan, sayang tuh!” sahut Tania. Emily menoleh dan tidak menggubris omongan Tania. “kamu kenapa?” tanya Darrell. “I’m fine Rell” jawabnya singkat. Setelah kami menghabiskan makanan kami kecuali Emily, kami bergegas pulang. Aku meminta Kak Yanda untuk menjemputku. Tapi karena berlawanan arah, Tania menolak untuk bersama di motor Kak Yanda. Akhirnya aku pulang terlebih dahulu.
Mama membawakanku semangkuk air hangat dan merendamkan anduk kecil ke dalamnya, kemudian meletakkannya di keningku. Hari ini mama melarangku untuk sekolah. aku pun hanya bisa berbaring di bawah selimut seharian. Sore harinya, Tania dan Emily menjengukku ke rumah. Tania berkata bahwa minggu depan akan dilaksanakan TO, jadi aku harus lekas sembuh. Kulihat Emily hanya diam saja seperti sebal. Aku pun bertanya padanya apa ia baik baik saja, dia mengangguk tapi tak lama kemudian ia pamitan untuk pulang duluan karena mamanya menyuruhnya untuk pulang. Hingga tinggal Tania yang menemaniku di rumah.
“Emily kenapa sih? Dari kemaren cemberut terus?” tanyaku. “gak tau tuh, tapi pas karaokean kemaren biasa ajak kok, seneng seneng malah kemaren” jawab Tania polos, dia membelalakkan mata dan menutup mulutnya. “oh tidak!” ujarnya. dasar Tania, ternyata dia keceplosan. Aku terkejut kenapa mereka tidak mengajakku karaokean. “siapa yang mengajak?” tanyaku lagi. Ternyata Emily yang mengajak mereka. Kenapa Emily tidak mengajakku juga? Aku mulai berpikir pasti ada yang salah denganku. “kemaren pas gue tenggelem, gue diselametin sama siapa?”. “Darrell La” jawab Tania. apa mungkin Emily cemburu.
“sebenernya kemaren ada yang lebih parah lagi La” ujar Tania. “kemaren Darrell ngasih lo nafas buatan” tambahnya. “hah? Nafas buatan?” teriakku. Tapi aku senang juga, Darrell mau berbaik hati menyelamatkanku. Sudah tampan, baik hati pula. Tak lama kemudian Kak Yanda datang dan melihat ada Tania. Mereka pun mengobrol di balkon kamarku.
Ketika Tania sudah pulang diantar kakakku. Aku menggapai handphone ku di atas meja belajar yang memutarkan lagu bruno mars favoriteku yang kujadikan nada dering.
Gue: halo
On line: yola, ini gue Darell, Lo gak apa apa kan? Katanya lo sakit?
Gue: oh lo Rell, ya, gue baik baik aja ko, Cuma demam biasa
Percakapan berlanjut, Darrell meneleponku hingga malam tiba. Kurasa Darrell memang orang yang sempurna, dia tampan, baik hati dan juga perhatian.
Setelah beberapa minggu, Emily akhirnya berubah juga. Dia sudah tidak bermimik kesal lagi saat dekat denganku. Kami kembali bersama sama dan menghabiskan waktu baik di sekolah atau di luar sekolah. begitu juga dengan Darrell, seminggu ini dia lebih perhatian dan lebih baik lagi padaku. Terkadang juga aku bertemu dan jalan bersama dengannya. Atau sekedar nonton beberapa film di rumahku. Tapi aku tak pernah bilang kepada Emily maupun Tania. Selalu saja ada halangan saat aku hendak mengajak mereka, seperti pulsaku habis, handphoneku mati atau alasan lain.
Seperti hari ini, Darrell mengajakku ke café yang sangat ingin aku kunjungi karena band favoritku tampil disini. Lagu yang terputar sangat romantis. Aku terkejut saat Darrell meraih tanganku dan menggenggamnya. “I love you La, would you be my girl friend?” bisiknya. Aku lebih terkejut lagi. Rasanya ingin langsung menjawab ya, tapi aku sudah berjanji dengan dua gadis lain, jadi aku harus menepati janjiku. “em… tapi rell, gue udah janji sama Tania, sama Emily buat cerita dulu sama mereka tentang kita, baru bisa gue jawab, ya?” jawabku sambil tersenyum manis padanya.
Sepulang dari kencan dengan Darrell, aku mengajak Tania dan Emily untuk bertemu di basecamp kami, yaitu rumah Tania. Kami memilih rumah Tania sebagai basecamp karena disana tidak pernah ramai oleh orang-orang dan kami bisa bebas.
“ada apa lo ngumpulin kita la?” tanya Tania. “gue ditembak” jawabku riang. Mereka mulai menampakkan wajah penasaran dan gembira. “siapa La? Kok gue gak tau sih lo deket sama cowok itu?” tambah Emily. “sorry ya, selalu aja ada alesan kalo gue mau ngajak kalian saat gue mau jalan. Sorry banget, tapi kalian udah tau kok orangnya siapa” jelasku. “Darrell!” tambahku riang. Tania terlihat terkejut dan Emily, matanya berkaca kaca. “lo kenapa Ly?” tanyaku lebih heran. “La, sebenernya…” jawab Tania. “sebenernya gue… gue envy sama lo La, lo udah punya pacar, Tania udah hampir jadian sama kakak lo, gue kapan ya? Hahaha” sambungnya sambil terisak. Dalam hati aku jadi tidak enak dengan Emily, harusnya aku pacaran diam diam saja hingga Emily menemukan seseorang, jadi kami bisa double atau triple date. Tapi aku sudah terlanjur membicarakan ini. “sudah, nanti akan gue cariin cowok yang tepat buat lo ya Ly, atau, kita minta stok dari Tania aja, hahaha” hiburku.
Kini kami berlima, aku, Darrell, kak yanda, Tania dan Emily, selalu pergi bersama. Aku senang karena Kak Yanda menyatakan perasaannya pada Tania menyusulku dengan sangat romantis. Oleh karena itu, tiga gadis sekawan sekarang beranak menjadi lima, kemanapun kami selalu bersama hanya tinggal menunggu Emily mencari cinta sejatinya menyusul aku dan Tania.
“yeeeeees!!” teriak tiga gadis sekawan ini. Kehangatan mereka tularkan melalui satu pelukan di antara mereka. Rupanya mereka telah melewati ujian nasional dengan lancar dan lulus. Kini setelah mereka menghiasi baju mereka dengan banyak tulisan berwarna, mereka merundingkan masa depan mereka dengan dirinya sendiri. Kini, Tania, si gadis cantik berkulit putih dan halus dengan perawakan tinggi langsing akan kuliah di bandung dengan mengambil desain interior juga ia akan menerima beberapa tawaran menjadi model. Yola, dia akan terus menyalurkan bakat fotografinya dan menjual beberapa hasil karyanya kebeberapa perusahaan. Tapi Emily hanya terdiam. Janji baru pun terucapkan dari mulut salah satu dari mereka “setelah ini, kita gak boleh jauh jauh, gak boleh lost contact dan harus ketemu sebulan sekali!”
Handphone Emily berbunyi, setelah dia menjauh dari kerumunan dan mengangkat telepon dari orang di luar sana, dia kembali menghampiri kami. “temen temen, gue mau bilang sesuatu sama kalian” ucapnya ragu. Aku kebingungan dengan mimik Emily yang sangat takut dan ragu, begitu juga dengan Tania. “gue hari ini mau packing buat pergi ke jerman besok pagi. Gue baru dikasih tau hal ini dua minggu yang lalu sama oma gue. Jadi maaf kalo gue gak bisa nepatin janji kita. Gue sayang kalian, gue bakalan rindu kalian, maaf gue mendadak bilang ini.” Jelasnya singkat. Aku dan Tania sangat terkejut dengan semua ucapan Emily, aku mulai meneteskan air mataku. Tania lebih deras. Kami berpelukan. Kurasa ini terakhir aku bisa memeluk Emily untuk beberapa tahun kedepan. Selamat jalan Emily. We love you. Dimanapun kita, kita masih tiga gadis sekawan.
*Emily p.o.v.*
“Emily, ada Darell di ruang tamu” teriak mama dari dalam kamarnya. Aku terkejut Darrell datang. “ada apa Rell?” tanyaku. “kenapa kamu gak bilang sama aku kalo kamu mau pergi?” tanyanya. “kenapa Rell? Gue bukan siapa siapa lo lagi? Buat apa gue bilang sama lo? Lo emang kesini, jauh jauh dari jerman. Tapi itu bukan buat gue! Lo udah ingkarin janji lo yo! Gue udah muak sama lo! Gue coba tegar di hadapan yola karena dia sahabat gue! Udah sana pergi!” teriakku. “sorry tan, tapi gue suka sama dia waktu gue liat dia pertama kali.” Ucap Darrell. “gue juga minta maaf, gue juga udah sayang banget sama Darrell saat gue ketemu dia tan” tambah yola yang tiba tiba muncul. “ngapain lo berdua kesini?! Mau so sweetan bilang kalo kalian itu sama sama cinta pada pandang pertama?! Mau nambah sakit hati gue?! Udah cukup!” ujarku.
“gue kesini mau minta maaf tan, Darrell udah ngingkarin janjinya karena gue. Gue minta maaf, plis maafin gue. Gue udah sayang banget sama Darrell tan!” tambahnya sambil berlutut. Aku memang sangat sakit hati mendengar Darrell menyatakan perasaan kepadanya saat itu dan aku sekarang sakit hati juga mendengar yola benar benar menyayangi Darrell. tapi aku mulai luluh. Aku tak kuasa melihat tangisnya. Aku meraihnya dan mengajaknya duduk. “oke La, sorry gue emosi, gue bakalan relain kok, lo sama Darrell. Darrell emang salah udah ingkarin janjinya, tapi gue rasa dia punya alesan yang pasti buat ngelakuin itu dan milih lo. Mungkin gue bukan yang terbaik buat dia, mungkin rasa sayang gue gak bisa dia rasain.” Kataku sambil menitikkan air mata. “Darrell, gue pengen lo ngejaga Yola, ya” aku mengarahkan tatapanku pada Darrell yang hanya bisa terdiam. Ia mengangguk pasti.
Cerita tentang Darrell sederhana, Papaku dan papanya yang bersahabat di jerman, mendirikan usaha di indonesia dan mereka jatuh cinta juga menikah dengan wanita-wanita indonesia. Akhirnya kami pun lahir. Hingga saat kami hendak SMA, Darrell harus pindah dan mengurusi usaha orangtua kami di jerman dan sekarang orangtua kami bertukar tempat. Awalnya aku tidak ingin ikut kembali ke Jerman, tetapi setelah mendengar Darrell berpacaran dengan sahabatku sendiri, kurasa aku tidak akan bisa bertahan melihat mereka berdua menjalin hubungannya. Oleh karena itu aku putuskan untuk ikut pergi ke jerman bersama papa dan hanya kembali untuk memperpanjang visa.
Akhirnya aku bisa pergi ke jerman tanpa ada ganjalan di hatiku. Biar sajalah Yola dan Darrell saling menyayangi. Apa boleh buat, rasa sayangku tetap tak akan bisa memisahkan mereka karena mereka sudah sangat menyayangi satu sama lain. Walaupun cinta dan hatiku terluka, tapi tak apa demi sebuah cinta yang baru dan bersemi, aku relakan. Khususnya untuk sahabatku sendiri.
SELESAI

read more

0 Pengemis Itu Ternyata…

Minggu pagi yang cerah. Ku bangun dari tidurku yang lelap. “Whhooahhm,” kuregangkan tubuhku. Angin sejuk menerpa tubuh ini. Ah iya, aku hampir lupa, aku harus menjemput kakak sepupuku dan berolahraga bersama– rencananya. Segera aku berganti baju, setelah itu kupacu sepedaku menuju rumahnya.
“Ntaar,” jawabnya singkat. Huh, selalu saja begitu. Udah nunggu lama, hampir kesiangan lagi. Kami berdua bersepeda menyusuri jalan.
Tiba-tiba saja kurasakan sepeda yang kunaiki mendadak oleng. Ya ampun, ban sepedanya kempes. Untunglah di dekat sini ada SPBU yang menyediakan pengisian angin.
Sesudah mengisi angin, kami berdua kembali bersepeda. Kami bersepeda dengan asyik, hingga di jalanan yang menurun – dan kurasa itu cukup curam. Aku harus mengerem sepedaku, namun di luar dugaan rem-ku mendadak macet! Oh Tuhan, apa lagi ini! Aku tak tahu apa lagi yang harus aku lakukan. Namun, tiba-tiba rem-nya berfungsi kembali, hanya saja roda sepedaku nyaris menubruk bagian belakang truk yang ada di depanku.
“Huu, itu suara teriakan teraneh yang pernah aku dengar,” kata kakakku mencibir sambil tertawa saat mendengar teriakanku. Aku sangat takut.
“Kamu tidak tahu ini sangat menakutkan, MATI men, MATI! Ngomong-ngomong apa suaraku tadi terdengar keras?” tanyaku. Dia hanya ketawa-ketawa saja.
Hmm, lebih baik aku melanjutkan bersepeda menuju lapangan milik TNI –tempat tujuan kami semula. Namun, di tengah perjalanan aku melihat seorang pengemis yang memprihatinkan. Tangannya diperban, dan duduk lemah tak berdaya di trotoar. Aku tak tega melihatnya. Kuberikan untuknya uang ribuan, dan cepat-cepat aku mengejar kakakku yang sudah berada jauh di depanku.
Aku dan kakakku sudah berada di areal lapangan. Kami berdua berlari mengelilingi lapangan untuk beberapa putaran. Pada putaran kedua, di pojok lapangan yang agak rimbun dan terdapat patung besar kulihat ada seseorang yang sedang berganti pakaian. Tapi tunggu, bukankah dia pengemis yang tadi? Dia sudah bisa berjalan? Dan perban yang menempel di tangannya sudah tidak ada? “Kenapa? Ayo cepat, senamnya mau dimulai tuh,” tiba-tiba kakakku menarikku. Aku sudah tidak menghiraukan ‘orang itu’. Kami berdua terus berlari mendekati tempat dilaksanakannya senam pagi.
Aku dan kakakku sampai disana tepat sebelum musiknya dimainkan. “Yeah, mari bersenam ria..” kata kakakku bersemangat. Aku hanya tertawa. Kami berdua bersenam mengikuti gerakan instruktur. Kulihat di sebelah kiri, kakakku malah lebih mirip itik yang panik dikejar anjing – kurasa, berjingkrak-jingkrak tidak mengikuti gerakan instrukturnya. Kemudian kulihat di sebelah kanan, dan ya Tuhan.. orang yang tadi kulihat berganti pakaian di pojok lapangan, dan pengemis itu! Benar, ternyata dia. Wajah dan postur tubuhnya mirip sekali – dan itu memang dia. Bajunya, tadi sangat kumal, bahkan sobek-sobek di daerah lengan. Sekarang berubah drastis, berpakaian rapi dan sama sekali tidak terlihat tampang kere. Dia menoleh ke arahku. Buru-buru aku memalingkan muka untuk menghindari kecurigaannya. Aku melanjutkan senamku.
Senam sudah berakhir lima menit yang lalu. Aku dan kakakku duduk-duduk melepas lelah. “Tadi itu gerakan yang sempurna. Apa aku bisa belajar?” tanyaku mengejeknya.
“Itu tadi gerakan bukan sembarang gerakan. Enak saja” katanya ketus. Aku kemudian mengambil minuman yang aku bawa dari rumah. Aku meminumnya sedikit. Kutoleh kanan – kiri melihat situasi. Agak sepi, mungkin banyak yang pulang sehabis senam tadi. Kuminum lagi minumanku sambil menoleh ke kanan. Hah!! Dia lagi! ‘seseorang’ yang tadi. Ya Tuhan.. aku sampai berpikir apakah orang ini mengikutiku, atau bagaimana. Aku mengintip isi tasnya yang setengah terbuka. Benar saja, ada pakaian yang digunakan untuk ‘beroperasi’. Tangannya menggenggam sebuah telepon genggam atau HP. Itu biasa, hampir setiap orang mempunyainya. Namun, ini bukan sembarang HP, namun HP canggih yang tak sembarang orang mempunyainya dan masih jarang ditemui. Aku mencolek kakakku dan meliriknya. Dia hanya tersenyum.
Kami berdua kemudian berjalan menuju parkiran, bersiap untuk pulang. Dalam perjalanan aku berbicara dengan kakakku tentang pengemis tadi. Kakakku kemudian bercerita bahwa sebenarnya dia sudah mengetahui pengemis itu. Ia mempunyai rumah bertingkat. Dan yang lebih menghebohkan lagi, dia mempunyai dua istri. Jadi sebenarnya, siapa dia?
Cerpen Karangan: Vicky Adam Ubaid Akram
Blog: vadamubaid.blogspot.com

read more